Temani Bunda Playground Mengenali Diri Lebih Dalam


 Tahun 2023 merupakan titik balik dalam kehidupanku. Saat itu aku mengikuti perkuliahan Bunda Salihah yang merupakan level terakhir di perkuliahan Institut Ibu Profesional. Mengawali perkuliahan untuk mengaktifkan empati dalam diri. Melihat diri sendiri dan sekeliling, adakah problem atau masalah yang kita temukan. Tentu banyak sekali problem yang ditemukan. Namun, ada suatu problem yang sangat aku tertarik untuk menguliknya, karena aku pun merasakannya. Bahkan sebagian besar perempuan yang sudah menikah merasakannya. Apakah problem itu? Yaitu seorang perempuan yang sudah menikah khususnya yang sudah menjadi ibu merasa post power syndrom. Biasanya post power syndrom dirasakan oleh pemimpin yang sudah tidak lagi berkuasa, maupun seseorang yang telah pensiun dan melepaskan karirnya. Menurutku fenomena post power syndrom pun dialami oleh seorang ibu. Karena banyak perubahan yang sangat drastis dialami oleh seorang ibu. Berawal dari hamil, melahirkan, menyusui, kemudian melakukan pengasuhan. Ditambah dihadapkan pada pilihan akan tetap bekerja melanjutkan karirnya atau berhenti dan fokus mengasuh anak di rumah. Apalagi jika seorang ibu yang memiliki riwayat pengasuhan terluka saat kecil. Juga banyak hal yang mungkin dirasakan berbeda-beda setiap orang.

Berawal dari empati tersebutlah akhirnya mulai didalami mengapa seorang ibu merasakan kehilangan arah setelah memiliki anak. Seakan semua hal harus anak yang didahulukan dan diri sendiri ditinggalkan. Maka setelah didalami, hal tersebut merupakan hal lumrah dirasakan oleh seorang ibu baru. Namun, tiap orang memiliki respon yang berbeda-beda untuk mengatasinya. Jika memiliki supporting system yang kurang, maka akan lebih rentan merasakan post power syndrom maupun kehilangan arah. 

Lalu langkah apa yang diramu oleh tim Temani Bunda untuk mengatasi hal tersebut? Pertama, kami melihat bahwa kesehatan mental harus diperhatikan oleh seorang ibu. Ibu dilatih untuk meregulasi emosi dengan baik, latihan self care, dan lebih memperhatikan diri dengan lebih baik. Kedua, ibu harus menemukan satu potensi yang bisa dikembangkan sehingga menjadi passion. Passion tersebut membuat diri kita bahagia bahkan bisa menghasilkan karya. Ketiga, ibu dapat kembali berdaya, yaitu memiliki kepercayaan diri penuh, berani mengambil keputusan, mengoptimalkan passion nya dengan baik, bahkan bisa bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya.

Walaupun masih sangat kecil gerakan ini, bahkan baru seumur jagung, tapi mudah-mudahan Allah Ta’ala berikan kekuatan dan jalan agar gerakan ini dapat terus memberikan kebermanfaatan, aamiin. Juga semoga banyak ibu yang terbantu agar bisa kembali berdaya dan menjadi versi terbaiknya masing-masing.

Saat mendalami gerakan ini, yang aku rasakan adalah perlahan permasalahan dalam diri terbantu untuk diselesaikan. Jadi bagiku, aku adalah penerima manfaat pertama dan utama dalam gerakan ini. Walaupun belum banyak penerima manfaatnya, aku sendiri sudah merasakan dampak luar biasa manfaatnya. Mudah-mudahan titik balik ini bisa membuatku semakin berdaya, dan temani bunda ini merupakan playground ku untuk menjalankan peran peradaban ku.

Comments