Dibalik Kemudahan Ada Harga Yang Harus Dibayar


Kali ini aku ingin menuliskan cerita dibalik kelahiran anak kedua. Maa syaa Allah tabarakallah, Allah Ta’ala berikan rezeki untuk melahirkan secara cepat dan tidak sesakit saat melahirkan anak pertama. Alhamdulillah juga bisa lebih tenang dalam menjalaninya, tidak semelow sebelumnya. Bahkan belum 24 jam setelah melahirkan sudah bisa beres-beres rumah, menyapu, mengenal, dan aktivitas rumah tangga lainnya. Saat itu tidak ada keluarga besar juga yang tinggal di rumah seperti kelahiran anak pertama. Hal ini membuat keadaan emosional lebih baik, karena tidak ada campur tangan orang lain dalam proses adaptasi kelahiran anak kedua ini.


Namun ternyata kemudahan itu tidak cuma-cuma, ada harga yang harus dibayar untuk kemudahan yang dibayar tunai di depan. Kemudahan itu harus dibayar dengan tantangan-tantangan dalam mengurus anak kedua ini. Benar-benar tidak semudah anak pertama. Jika anak pertama sangat sakit saat melahirkan namun diberikan kemudahan dalam mengurusnya. Anak kedua diberikan kemudahan saat melahirkan namun diberikan tantangan saat mengurusnya. 


Jika anak pertama usia 11 bulan sudah bisa jalan, anak kedua membutuhkan waktu lebih dari 18 bulan baru menunjukkan tanda-tanda mulai bisa berjalan. Anak pertama bisa berbicara usia setahun, anak kedua baru mengeluarkan beberapa kosa kata saat usianya lebih dari 2,5 tahun. Anak kedua berhasil disapih saat usia 2 tahun, anak kedua baru bisa disapih lebih dari 2 tahun dan banyak dramanya. Anak pertama sudah tuntas toilet training saat usia 2,5 tahun, anak kedua belum tuntas toilet training padahal sudah 4 tahun lebih usianya. Dan masih banyak lagi perbedaannya.


Walaupun ada yang bilang milestone setiap anak itu berbeda. Anak terlahir unik dan sebagainya. Namun, sebagai seorang ibu sudah mencurahkan segenap usaha namun belum berbuah sesuai harapan, ada rasa lelah juga sedih. Tapi bagaimanapun harus tetap berusaha untuk kemajuan perkembangan anak-anak. Fase-fase saat perkembangan sangat lambat terasa panjang sekali, sampai dititip merasa gagal dalam mendampingi anak-anak. Namun saat kemajuan mulai terasa rasanya sangat haru dan bahagia. 


Hidup ini adalah bagaimana kita menghadapi tantangan dan masalah yang datang. Menguji mental juga tenaga kita dalam menyelesaikannya. Termasuk dalam garis Hidup sebagai orang tua yang mendampingi anak-anak. Tentu saja banyak tantangan yang harus dihadapi. Walaupun saat diberikan kemudahan harus dibayar dengan tantangan-tantangan. Namun terkadang tantangan-tantangan itu diberikan kemudahan dalam menghadapinya.


Jadi saat kita dibayar kemudahan, bersiap-siaplah bisa jadi kita harus membayar kemudahan itu dengan harga uang tidak sedikit pula.


 

Comments