Ekstrovert Pun Menjadi Introvert Pada Waktunya

 


Kita sering mendengar kata introvert dan ekstrovert dalam perbincangan sehari-hari. Keduanya merupakan kepribadian yang digunakan untuk menggambarkan cara berinteraksi seseorang dengan dunia sekitar yang menjadi sumber energinya. Sumber energi orang yang memiliki kepribadian ekstrovert adalah dari lingkungan eksternal dan interaksi sosial. Sedangkan, orang yang memiliki kepribadian introvert mendapatkan energi dari waktu sendiri dan refleksi internal. Namun, ada juga orang yang tidak sepenuhnya ekstrovert atau introvert, melainkan berada di tengah-tengah yang sering disebut dengan ambivert.


Sebagai seseorang yang memiliki kepribadian ekstrovert yang harus bertemu orang lain agar mendapatkan energi baik dengan mengobrol maupun interaksi sosial. Rasanya energi jadi bertambah dan makin bersemangat menjalani hari-hari ketika bertemu dengan orang-orang di lingkungan luar. Sebaliknya, ada perasaan sedih dan merasa tidak berharga ketika hanya berdiam diri di dalam rumah dan tidak bisa bertemu dengan banyak orang. Energi habis dan tidak terisi, merasa diabaikan dan tidak ada yang peduli dengan diri sendiri.


Pernah mengalami masa-masa sulit itu ketika melahirkan anak kedua di masa pandemi. Menjadi orang tua yang memiliki bayi dan anak usia 3 tahun sudah sangat berat. Ditambah, waktunya saat pandemi yang tidak bisa berinteraksi sosial sehingga sumber energi tidak ada. Rasanya seperti kehilangan diri sendiri karena tidak diisi sumber energinya. Perlahan sudah mulai membaik ketika anak sudah sekolah dan pandemi pun berakhir. Kembali menjalani aktivitas seperti biasa dan bisa berinteraksi sosial kembali. 


Namun, seiring berjalannya waktu dan anak-anak makin besar juga sudah bisa diajak diskusi dengan lebih intens, ada perubahan yang dialami. Interaksi sosial di lingkungan luar rasanya ingin banyak dikurangi. Hanya bersosialisasi saat waktu penting-penting saja. Selain itu, tidak ingin terlalu larut dalam drama pertemanan lebih dalam. Juga tidak ingin menjalin pertemanan yang terlalu dekat. Berteman biasa saja dan konteksnya dalam pendidikan anak maupun pengembangan diri sendiri. Walaupun interaksi dengan lingkungan luar adalah sumber energi bagi orang ekstrovert, namun juga menghabiskan energi tersebut jika banyak drama dalam pertemanan. Jadi pertemanan yang semakin dewasa ini lebih baik seperlunya saja. Supaya bisa fokus pada keluarga dan pengembangan diri. Sehingga diri menjadi lebih produktif, minim drama, dan dapat menyeimbangkan kehidupan.


Mungkin, kini aku merasakan fase di mana seorang ekstrovert menjadi introvert pada waktunya, yaitu saat ini, ketika usia semakin bertambah dan ingin memiliki kehidupan yang berkualitas dan tenang. Semakin bertambah usia, energi semakin berkurang jadi jangan buang-buang energi untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Lebih baik fokus pada hal-hal yang berdampak baik pada diri sendiri dan keluarga. 

Comments