Fleksibel Dalam Bekerja

 

Ketika awal resign bekerja setelah melahirkan anak pertama. Aku merasakan kejenuhan yang luar biasa akan mungkin sampai ke level yang lumayan serius seperti burn out atau stress. Rutinitas yang sama dan monoton setiap harinya membuatku semakin merasa rendah diri. Apalagi status menjadi ibu baru yang baru saja belajar dalam merawat anak. Ingin rasanya lari dari kenyataan dan kembali ke dunia kerja. Pikirku saat itu akan menjadikan aku lebih produktif dan lebih bahagia. Tapi akhirnya terbendung juga tidak sampai terealisasi untuk kembali bekerja saat anak-anak masih kecil. Anak pertama sudah 3 tahun dan lahirlah anak kedua, semua hal terulang kembali seperti anak pertama. Namun, kini jauh lebih berat karena milestone anak kedua lebih lambat dibandingkan anak pertama. Sehingga perasaan ingin keluar dari situasi itu semakin kuat. Kembali bekerja di ranah publik dan meninggalkan yang ku pertahankan selama ini. Namun akhirnya kembali diurungkan niatnya.


Dibalik beratnya mengurus anak kedua ternyata Allah Ta’ala berikan jalan agar aku bisa lebih berdaya di dalam rumah dan bisa mendapatkan penghasilan. Kini pekerjaannya pun fleksibel dan tidak terikat dengan orang lain. Walaupun menjadi tantangan terhadap diri sendiri terkait konsistensi. Tapi semua ini dapat menjawab keresahanku bahwa bekerja tidak harus meninggalkan anak-anak dalam waktu yang lama, bekerja tidak harus dengan orang lain dan bisa mengatur sendiri ritmenya.


Bekerja menjadi lebih fleksibel di zaman yang serba digital ini. Didukung oleh banyaknya co-working space maupun cafe yang sangat nyaman untuk orang yang bekerja dengan fleksibel. Bekerja dapat di mana saja dan kapan saja tanpa terikat dengan atasan. Apalagi semakin bertambahnya usia rasanya ingin membatasi berada di lingkungan toxic. Apalagi dunia kerja yang sangat banyak persaingan, istri, dan drama. Lebih baik menepi, mengembangkan diri dan bekerja dengan lebih tenang. Karena bekerja saat ini buatku bukanlah mencari nafkah utama, melainkan untuk mengisi aktivitas agar lebih produktif. Mungkin jika porsinya bekerja untuk mencari nafkah akan berbeda perjuangannya, walaupun lingkungan tidak nyaman akan dipertahankan demi mendapatkan penghasilan. 


Selama masih bisa memilih bekerja untuk mengisi waktu dengan aktivitas produktif, lebih baik memilih pekerjaan yang membuat hati tenang tanpa drama maupun persaingan dengan rekan kerja. Karena sejatinya peran utama di rumah adalah sebagai istri bagi suami dan ibu bagi anak-anak. Selamat bekerja secara fleksibel. Kira-kira pekerjaan apa lagi yang bisa dikerjakan dengan fleksibel?


Comments