Meneropong Masa Depan
Sebagai seorang yang memiliki bakat futuristic pada peringkat 3 dalam talents mapping. Aku merasa masa depan itu seperti di depan mata. Rasanya jarak masa kini dan masa depan hanya sejengkal. Masa Depan terasa akan benar-benar terjadi esok hari. Ditambah aku memiliki pengalaman kehidupan yang menantang, dari orang tua yang memiliki penghasilan yang dapat mencukupi segalanya, menjadi tidak memiliki penghasilan sama sekali karena sakit. Sehingga aku selalu bersikap waspada terhadap sesuatu yang akan terjadi kedepannya. Memiliki bakat futuristic dan pengalaman hidup yang sulit pada masa itu, menekanku untuk selalu punya perencanaan yang baik di masa depan.
Terkadang aku merasa lelah, karena otak ini selalu berpikir untuk menyiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Namun, satu sisi hal ini sangat membantuku untuk merencanakan dan membuat berbagai macam strategi untuk menghadapi masa depan. Bagiku, keputusanku saat ini akan menentukan masa depanku kelak. Maka aku harus benar-benar mempertimbangkan apa yang aku pikirkan dan lakukan saat ini.
Aku sudah terbayang dan memikirkan, apa yang akan kulakukan ketika anak-anak sudah beranjak besar. Peran apa yang akan kuambil di masyarakat. Apakah aku akan bekerja di ranah publik kembali atau aku akan berbisnis. Aku juga sudah terbayang apa yang harus aku persiapkan untuk biaya pendidikan anak sampai kuliah kelak. Bahkan anak ketiga yang masih dalam perencanaan sudah terpikirkan, padahal hamil pun belum.
Ditambah keluarga kami masih dalam proses merintis menuju keluarga sejahtera. Saat ini belum memiliki tempat tinggal tetap milik sendiri, dan belum memiliki aset kecuali kendaraan roda dua. Hal tersebut semakin memacu bakat futuristic ku untuk bekerja agar dapat mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi. Seakan masa depan dapat kuteropong saat ini dari segala keputusan yang diambil dan sebab akibat yang terjadi.
Hal yang membuatku tenang adalah memasrahkan semuanya pada Allah Ta’ala. Menerima segala qada dan qadar dengan lapang dada. Berusaha ikhlas atas takdir yang keterima. Namun, sebagai manusia aku tetap terus berikhtiar melakukan yang terbaik untuk masa kini dan masa mendatang. Menurutku bakat futuristic ini sangat membantuku membuat strategi-strategi juga perencanaan masa kini dan masa depan. Biarpun ada lelah, masih bisa diatasi dengan relaksasi pikiran dan perasaan.
Bakat futuristic ini seakan-akan membuatku meneropong segala kemungkinan yang akan terjadi dalam setiap episode kehidupan. Menimbang-nimbang kemungkinan yang terjadi sesuai harapan. Dan terekam jelas apa yang seharusnya kulakukan di masa depan. Bahkan, kemungkinan terburuk sudah terpikirkan, misalnya andaikan tiba-tiba harus menjadi pencari nafkah utama karena kondisi yang tidak ideal. Maka aku harus bekerja apa, dan bagaimana menyekolahkan anak-anak agar tetap sesuai dengan visi misi keluarga. Solusinya aku selalu termotivasi untuk meningkatkan keterampilan. Tujuannya agar peluang mencari rezeki semakin terbuka lebar.
Selain itu, aku sudah terpikirkan apa yang akan kulakukan di masa tua kelak. Aku membayangkan akan berkebun organik di rumah. Maka aku harus membiasakan berkebun sejak sekarang agar terbiasa. Aku harus sehat dan bugar di masa tua, maka aku harus rajin olahraga sejak saat ini. Dan masih banyak hal yang kurencanakan di masa depan sudah mulai dipersiapkan sejak sekarang. Semoga apa yang terjadi di masa depan adalah takdir yang indah yang Allah Ta’ala berikan kepadaku, aamiin Allahumma Aamiin.9

Comments
Post a Comment