Menjadi Pengamat

 


Menjadi seorang pengamat dan mengaitkan serangkaian peristiwa dan sebab akibatnya adalah aku. Kali ini aku memperhatikan seseorang yang begitu banyak waktu untuk mengurusi urusan orang lain. Entah karena memiliki konflik pribadi atau mungkin memiliki kecenderungan untuk selalu bereaksi berlebihan terhadap lingkungannya. Khususnya saat ada yang tidak setuju dengan pendapat maupun pemikirannya. Sebelumnya aku telah menuliskan tentang kita bukanlah pusat dunia dan tidak apa-apa jika memiliki pendapat yang berbeda dengan orang lain. Bagaimana pun ini suatu hal yang di luar kendali kita.


Apalagi sampai menyerang personal dan memberikan spekulasi, praduga, dan segala macam intrik agar argumennya menjadi pemenang dan diterima semua orang. Rasanya seperti ingin menjadi pusat dunia yang selalu mengharapkan perhatian dari sekelilingnya. Memang penting saat kita memiliki idealisme, namun tidak tepat rasanya jika idealisme kita dipaksakan untuk diterima semua orang. Saat ada orang lain yang memiliki pandangan berbeda akan dianggap seorang penjahat dan tidak baik. Sepertinya itu sudah sangat berlebihan.  


Aku jadi merenung apakah orang yang seperti ini memiliki trauma masa kecil. Atau telah mengalami serangkaian kejadian yang ia telah alami yang membentuk karakternya sekarang. Apakah ia tidak memiliki sandaran untuk bercerita dengan aman dan nyaman, sehingga bisa meredam emosinya dan tidak mengekspresikan secara berlebihan di dunia maya. Juga dugaan-dugaan lainnya yang terpikirkan. Dugaan ini bukan untuk menjatuhkan dan mencari kesalahan seseorang, namun sebagai pembelajaran diri tentang keunikan karakter orang-orang. 


Mungkin saja ia belum mengenal diri secara mendalam. Tidak fokus pada milestone diri sendiri untuk mencapai tujuannya. Sehingga orang tersebut cenderung lebih menyukai untuk mengurusi urusan orang lain. Selalu Ingin tampil dan dilihat benar. Kalimat ini pun muncul kembali saat aku tuliskan. Apakah jika penggambaran ini mencerminkan seseorang yang memiliki kepribadian narsisitik. Sebagai orang awam dan bukan psikolog tentu tidak boleh membuat diagnosa. Tapi paling tidak bisa mengantisipasi jika memiliki Ciri-ciri kepribadian tersebut. 


Orang yang memiliki kepribadian narsistik tidak akan sadar tentang kondisinya seperti itu. Maka sebisa mungkin menjaga orang-orang di sekelilingnya agar tidak termanipulasi atas perilakunya. Tentu saja diri sendiri yang harus terproteksi agar tidak menjadi korban. Walaupun diri ini merasakan kesal pada orang yang memiliki perilaku ini, namun sejatinya sangat kasihan. Mengapa kasihan? Sebenarnya orang tersebut juga terkena dampak kerugian dengan dijauhi oleh orang lain dan tidak dipercaya. Satu sisi memang perilaku yang mengesalkan itu sudah melampaui batas. Namun, satu sisi kepribadian baiknya bisa membuat dirinya lebih baik.


Mengapa aku begitu memikirkan hal ini? Alasannya untuk kebaikan dan suasana kondusif dalam suatu komunitas yang diharapkan bisa mengakomodasi semua orang dapat merasakan kenyamanan tanpa gesekan maupun kegaduhan. Apakah bakat utama connectednessku ini sedang bekerja untuk mendukung bakat penunjang yaitu harmoni. Entahlah, tapi sebagai pengamat berharap semua ini ada solusinya. Jika engkau menghadapi kondisi seperti ini apa tindakan yang akan kamu lakukan?

Comments