Sebelum Melakukan Kritik Hadirkan Empati
Menurut Dale Carnegie kritik itu sia-sia karena menempatkan seseorang di posisi mempertahankan diri dan biasanya membuatnya berusaha membenarkan dirinya sendiri. Kritik itu berbahaya karena melukai harga diri seseorang yang berharga, melukai perasaan dan membangkitkan dendam. Dendam yang ditimbulkan dari kritik bisa mengecilkan hati orang lain. Orang yang kita kritik mungkin hanya membenarkan dirinya sendiri dan membalas mengkritik kita. Karena ciri khas manusia, pelaku kesalahan yang menyalahkan semua orang kecuali dirinya sendiri. Ketika menghadapi orang, harus ingat kita tidak sedang berhadapan dengan makhluk logika tapi berhadapan dengan makhluk emosi yang dipengaruhi prasangka dan dimotivasi oleh harga diri serta keangkuhan.
Apakah tidak boleh mengkritik? Tentu boleh-boleh saja karena itu pilihan kita. Tidak harus selalu sepakat dengan pendapat Dale Carnegie, jika kita mempunyai sudut pandang lain juga boleh. Tapi yang ditekankan di sini, sebelum mengkritik coba pahami terlebih dahulu orang itu, kenapa dia melakukan itu dan apa triggernya. Jadi sebelum mengkritik orang lain coba hadirkan terlebih dahulu empati. Setelah mengetahui motif dan latar belakangnya maka kita akan bersikap lebih bijaksana. Mungkin saja kita tidak sepakat dengan ucapan dan perbuatan orang tersebut, tapi kita hadir untuk empati, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memberikan saran tanpa mengkritik yang menyakitkan.
Mengasah empati itu sangat penting untuk menghadapi orang lain. Tidak apa-apa jika kita memiliki pendapat berbeda, memiliki pandangan berbeda. Bahkan tidak apa-apa jika kita tidak disukai dan dibicarakan di belakang. Itu semua hal-hal di luar kendali kita. Jangan sampai perbedaan pendapat maupun pandangan membuat kita mudah mengkritik orang lain. Apalagi mudah sakit hati karena perlakuan orang lain dan memancing diri kita untuk mengkritik orang lain. Fokus utama diri kita adalah melatih empati untuk berhadapan dengan orang lain, tujuan utamanya untuk melindungi diri kita sendiri agar tidak terluka karena perlakuan orang lain. Juga tidak melukai orang lain karena perlakuan dan ucapan kita.
Kita seperti terbiasa untuk tidak boleh salah, tidak boleh gagal, harus benar, dan selalu mendapatkan kesempurnaan. Padahal tidak apa-apa jika kita salah, gagal, dan sebagainya. Kekalahan dan kesalahan adalah pelajaran hidup. Juga dengan kritik orang lain terhadap diri kita juga pembelajaran hidup. Namun, kita belajar sebelum mengkritik berusaha melakukan pendekatan lain tanpa melukai dan menyakiti orang lain.

Comments
Post a Comment