Terkadang Miskin Itu Sebuah Privilege
Biasanya kita menganggap bahwa kekayaan, harta, pangkat, jabatan merupakan suatu privilege. Privilege sendiri dapat diartikan sebagai hak istimewa yang banyak diinginkan oleh banyak orang. Kebanyakan orang menganggap privilege tersebut dapat memudahkan akses untuk mendapatkan sesuatu maupun posisi tertentu. Ada yang berharap terlahir sebagai orang kaya raya dengan harta melimpah, agar dapat hidup sejahtera dan bisa dengan mudah mengakses pendidikan maupun jabatan.
Mungkin memang benar adanya jika privilege diartikan seperti yang lumrah diketahui. Namun, aku memiliki sudut pandang dan pengalaman yang berbeda. Terlahir dari keluarga sederhana yang tercukupi kebutuhannya. Memiliki orang tua dan keluarga yang diperhitungkan, dihormati, dan dihargai di kampung halaman. Bukan orang yang kaya raya dan bergelimang harta, tapi saat itu sangat cukup dan hidup layak. Bagi orang tuaku menyekolahkan ke jenjang SMA merupakan pencapaian yang tinggi. Alasannya kedua orang tua hanya tamatan sekolah dasar. Aku memiliki impian untuk bisa kuliah, namun saat aku SMP usaha kedua orang tuaku sedang menurun. Sehingga kuliah hanyalah impian belaka yang entah bagaimana mewujudkannya.
Ketika aku kelas 2 SMA bapak jatuh sakit dan tidak bisa mencari nafkah lagi. Bapak istirahat total dan tidak bekerja. Akibatnya tidak memiliki penghasilan sama sekali. Aku adalah anak bungsu dari enam bersaudara, semua kakakku sudah menikah dan memiliki anak. Dalam kondisi yang sulit itu aku dan kedua orangtuaku hanya mengandalkan pemberian dari kakak-kakak untuk bisa makan dan melanjutkan sekolahku. Saat itu kakak-kakak pun masih dalam kondisi perjuangan dan belum begitu sejahtera, hanya cukup untuk keluarga kecilnya dan sedikit menyisihkan untuk orang tua juga adiknya.
Impian untuk bisa kuliah saat itu benar-benar hanya menjadi impian saja. Tapi, aku memiliki keinginan kuat yang juga didukung oleh kakakku. Sampai pada akhirnya aku mencoba untuk mendaftar beasiswa dan mengikuti seleksinya. Juga mendaftar SNMPTN jalur undangan saat itu walaupun dengan jalur berbayar dan bukan jalur beasiswa saat itu untuk seleksi universitasnya. Satu persatu impian itu mulai menunjukkan titik terang. Beasiswa yang aku ikuti saat itu sampai tahap wawancara walaupun gagal di tahap selanjutnya. Kemudian seleksi universitas pun lolos sesuai pilihan pertama. Ketika daftar ulang benar-benar bingung bagaimana harus membayar uang kuliah ini. Bahkan orang tua pun tidak punya penghasilan. Saat itu hanya berharap bisa mendapatkan biaya terendah, karena pembayaran sesuai dengan penghasilan orang tua.
Ditengah rasa bahagia karena impian untuk kuliah akan segera terwujud, Allah Ta’ala memberikan kejutan lagi. Tiba-tiba aku mendapatkan undangan untuk mendapatkan beasiswa padahal aku tidak mendaftar beasiswa tersebut. Mungkin, penyeleksi melihat esai yang aku buat yang mengisahkan kondisiku saat itu juga pendapatan orang tua yang terlampir dalam formulir pendaftaran. Ingin rasanya menangis dan tidak percaya saat itu. Lolos ke universitas yang diinginkan saja sudah sangat bahagia ditambah mendapatkan beasiswa penuh, sehingga tidak merepotkan orang tua maupun kakak-kakak untuk membiayai.
Kemudian aku merenung, jika orang tuaku tetap berpenghasilan seperti biasanya mungkin aku harus membayar uang kuliah dengan jumlah yang lumayan besar. Padahal orang tuaku belum sampai pemikirannya untuk menguliahkan anaknya. Atau bisa jadi orang tua tergerak untuk menguliahkan tapi dananya tidak cukup. Walaupun mengalami kondisi sulit yang tiba-tiba, dari keluarga yang sangat berkecukupan sampai tidak memiliki penghasilan. Tapi ternyata dari perubahan status sosial menjadi miskin ini aku mendapatkan beasiswa kuliah sebagai privilege untuk keluarga miskin atau prasejahtera.
Walaupun ketika kuliah, saat teman-teman yang mendapatkan beasiswa yang sama denganku tetap diberikan uang saku oleh orangtuanya, namun aku tidak mendapatkannya. Kadang merasa sedih karena sejujurnya masih kurang uang bulanan dari beasiswa tersebut untuk biaya makan dan kebutuhan tugas kuliah. Namun, aku terus belajar agar dicukupkan. Ada harga yang harus dibayar untuk bisa mendapatkan kesempatan kuliah ini. Mungkin juga ini hikmahnya saat bersabar menghadapi kondisi orang tua yang sakit dan tidak memiliki penghasilan. Namun, tetap saja bukan hal yang mudah untuk menjalani semuanya. Tetap banyak perjuangan dan pengorbanan yang harus dilakukan.
Saat orang lain menggunakan privilege harta untuk mengakses pendidikan tinggi. Namun, aku menempuh jalan sebaliknya. Pernah hidup sangat berkecukupan, namun untuk mengakses pendidikan tinggi harus mengalami titik paling rendah dalam hidup.
Bagaimana apakah kamu pernah memiliki pengalaman bahwa kondisi miskin merupakan sebuah privilege?

Comments
Post a Comment