Merenungi Dunia Yang Sangat Kecil dan Tak Kasat Mata


 Saat di sekolah kita mempelajari bahwa atom adalah unsur kimia yang tidak bisa dibagi lagi. Kata "atom" berasal dari bahasa Yunani, yaitu atomos yang berarti "tidak dapat dibagi". Kita pernah meyakini bahwa atom adalah unsur terkecil yang menyusun kehidupan baik di alam semesta maupun makhluk hidup. Namun semua berubah saat fisika kuantum hadir. Di mana atom bukanlah unsur terkecil yang ada di alam ini, tapi ada yang lebih kecil yang menyusun atom tersebut yang dinamakan subatomik. Hukum-hukum yang berlaku di dunia subatomik ini dinamakan dengan kuantum. Subatomik yang menyusun atom dinamakan partikel. Teori kuantum menyatakan bahwa partikel menunjukkan sifat seperti gelombang dan partikel. Sifat partikel menunjukkan suatu materi yang bisa terlihat, namun gelombang tidak dapat dilihat. Dualisme partikel subatomik inilah yang menyebabkan untuk susah dihitung maupun diprediksikan. 


Dua fisikawan besar peraih Nobel pun memperdebatkan teori kuantum ini yaitu Albert Einstein yang sangat menentang teori kuantum yang sangat bertolak belakang dengan teori relativitas umum Einstein. Teori relativitas einstein memungkinkan apa yang terjadi dalam alam semesta ini dapat dihitung dan diukur. Berbeda dengan teori kuantum yang sulit diprediksi apalagi dihitung karena selalu memberikan hasil yang berbeda di setiap perhitungan maupun pengukuran. Namun, Niels Bohr berbeda pandangan dengan Einstein. Bohr sangat meyakini kebenaran teori kuantum, walaupun sulit untuk dihitung dan diprediksi. Menurut Bohr tidak semua yang ada dalam dunia ini dapat dihitung. Perdebatan panjang dan jurnal-jurnal bantahan Einstein terhadap teori kuantum malah semakin menguatkan teori kuantum itu sendiri. Walaupun masih panjang perjalanan untuk memecahkan teori kuantum ini. 


Kemudian kita merenungi ayat Al Qur’an dalam surat Al Zalzalah ayat 7 dan 8 yang artinya “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”. Zarrah yang dimaksud dalam ayat ini dapat merujuk pada sesuatu yang paling kecil yang ada di alam ini. Jika dulu kita meyakini atom adalah unsur paling kecil, mungkin sekarang kita bergeser pada pengetahuan ternyata ada yang lebih kecil dibandingkan atom yaitu partikel. Kebaikan maupun kejahatan yang dilakukan sekecil apapun bahkan tidak terlihat oleh mata karena sangat kecil akan mendapatkan balasannya.


Kembali ke dunia kuantum yang sangat kecil dan tidak bisa dilihat secara kasat mata ini memberikan hikmah dan pelajaran bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam berpikir. Allah Ta’ala yang menciptakan seluruh alam semesta ini menyimpan banyak rahasia dan misteri agar manusia senantiasa berpikir dan merenungi ciptaan Allah Ta’ala. Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, atom yang sudah sangat kecil dan tidak bisa dilihat oleh mata ini ternyata menyimpan banyak misteri. Jika atom itu sebesar lapangan sepak bola, inti atom hanya sebesar bola kecil atau kacang, sedangkan elektron-elektron dan partikel lainnya berada di pinggir lapangan bahkan diujung kursi penonton. Berarti atom itu memiliki banyak ruangan kosong, walaupun secara kasat mata yang kita lihat semua makhluk dan benda itu solid. Itulah misterinya dunia kuantum yang saat ini sangat ghaib. 


Ada pertanyaan yang sangat menggelitik, apakah sebenarnya ruh itu ada dalam dunia kuantum? Kita masih belum memiliki keilmuan sampai sejauh itu. Allah Ta’ala suda menjelaskannya dalam Qur’an Surat Al Isra ayat 85 “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit”. Agama memberikan kita sandaran jika akal kita tidak bisa menggapai pengetahuan yang mungkin belum bisa masuk ke dalam logika manusia. Dunia kuantum maupun ruh manusia masih menjadi hal yang ghaib. Namun kita harus meyakini bahwa Allah Ta’ala yang maha menciptakan semua yang terjadi dalam alam semesta ini memiliki maksud dan tujuan. Kelak kita akan mengerti mengapa semua ini diciptakan. Yang pasti kita harus meyakini dalam hati bahwa tugas kita di dunia ini adalah untuk beribadah dan menjadi khalifah di bumi. Pengetahuan yang kita miliki seharusnya bisa menjadi jalan untuk memakmurkan bumi. Wallahu’alam bishowab, semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan hidayah dan pengetahuan agar dapat mentafakuri alam semesta ini.


Comments