Prioritas Dalam Pendidikan Anak


 Setiap orang punya prioritas yang berbeda, apalagi jika memiliki dana yang terbatas dan harus memilih. Ada yang memilih memprioritaskan pendidikan anak dan memilih untuk mengontrak rumah tempat tinggal. Ada juga yang memilih prioritas rumah dibandingkan pendidikan anak, artinya anak sekolah di sekolah gratis. Keduanya sah saja jika dipilih salah satunya. Tapi yang membedakan nanti apakah orang tua hadir dalam mendidik anak, kalau tidak akan menjadi bencana kedepannya. Anak dikhawatirkan akan salah pergaulan, memiliki akhlak dan adab yang kurang baik. pada akhirnya harta yang dikumpulkan orang tua akan habis karena perbuatan dan tingkah laku anak yang rusak karena pergaulan. Kasus yang lebih mengerikan adalah nyawa orang tua melayang karena perbuatan anaknya sendiri. Zaman sekarang lingkungan anak tumbuh dan bergaul sangat menyeramkan jika tidak diseleksi dengan baik.


Jika pendidikan di dalam rumah kuat, anak punya pegangan dan sandaran. Sejatinya pendidikan itu memang dari dalam rumah. Namun, makin kesini orang tua makin melepaskan diri dari kewajiban mendidik anak. Mengapa? Tentu banyak hal salah satunya karena tuntutan ekonomi untuk mencari uang demi keberlangsungan hidup. Selain itu juga perkembangan zaman dan teknologi yang begitu cepat, banyak orang tua yang hidup dalam dunia sosial media. Larut dalam kehidupan dunia maya dan mencari hiburan juga kebahagiaan di dalamnya. Padahal sosial media dapat menarik mereka untuk ketergantungan sehingga bisa membuat mereka lupa akan kewajiban utama dalam mendidik anak. Hal yang menyedihkan adalah orang tua dengan senang hati mengenalkan anak-anak ke dunia sosial media. Bahkan para orang tua mengajarkan anak-anaknya untuk berjoget-joget di dunia maya itu. Bukankah hal itu membuat anak menjadi tidak memiliki rasa malu? Bukankah hal itu dapat menurunkan kognitif anak? Bukankah itu dapat mengurangi fokus anak? Bukankah itu bisa menurunkan literasi anak? Bagaimana hal ini akan meningkatkan sumber daya manusia yang baik jika terus dibiarkan dan dinormalisasi.


Semakin banyak anak-anak yang terpapar sosial media karena orang tuanya. Anak-anak pun di sekolah berteman dengan orang-orang yang terpapar sosial media juga tanpa pengawasan penuh dari orang tuanya. Bahkan mereka tumbuh dalam kondisi tidak diasuh oleh orang tuanya, tidak dididik oleh orang tuanya, namun dimanja oleh sosial media. Orang tua hidup di dalam dunia maya, anak pun hidup dalam dunia maya. Di dunia ini mereka hidupnya seperti semu, sehingga banyak yang salah pergaulan. Lalu apa yang diharapkan dari semua hal yang terjadi ini? Bagi orang tua yang masih berjuang dalam perekonomian mungkin situasi ini sangat sulit. Mau tidak mau, suka tidak suka mereka akan memilih sekolah gratis walaupun konsekuensinya anak-anak mereka bergaul dengan anak-anak yang tanpa didikan orang tua dan dimanjakan sosial media. Di sinilah peran orang tua harus sangat kuat dalam menjaga anak dari pergaulan di lingkungannya dan mendidik dengan sepenuh hati.


Namun jika orang tua memiliki dana walaupun terbatas namun masih bisa memilih, maka jangan ragu untuk memilih pendidikan yang baik dan lingkungan yang dapat menjaga anak-anak dari pergaulan yang tidak baik. Bagaimanapun saat kita mendidik anak, harus bersinergi dengan tempat anak-anak bergaul dengan teman-temannya, salah satunya sekolah atau lingkungan pendidikan. Bahkan sekolah yang berbasis agama pun tidak memberikan garansi kalau anak konsisten kesolihannya. Karena pendidikan itu ada di dalam rumah, sekolah adalah partner sinergi dalam pendidikan anak. Agar anak mendapatkan lingkungan yang baik di rumah maupun di sekolah. 


Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, kita bisa terus berusaha belajar dan memperbaiki diri. Sebagai contoh dan teladan utama untuk anak tentu anak akan melihat orang tuanya, sehingga anak-anak dapat terus belajar dan memperbaiki diri sepanjang hidupnya. Banyaknya ilmu parenting yang tersebar di sosial media, belum tentu cocok dan pas. Parenting itu bersifat individual, setiap orang memiliki formula yang berbeda. Maka orang tua harus benar-benar memahami apa yang dipilihnya dalam menentukan prioritas. Parenting itu sepanjang kehidupan kita, apakah keputusan dan prioritas yang kita pilih anak menentukan arah parenting kita? Jadi, apapun pilihan yang kita pilih, pertimbangkan dengan baik dan matang.


Comments